Tragedi 21-11-’12

Bismillahhirrahmaanirrahiim.,,..

Tersadar kini aku dengan keidupan ini,,, jauh mata memandang setiap lorong masa depan. Tapi apa daya aku hanya sanggup merencanakan dari setiap keinginan. Dari setiap kata inspiratif yang kubaca & kudengar disaat fikiran runcing hati terasa bergetar, fikiran melayang jauh dialam impian yang penuh tanda tanya. Aku tak tau semua itu akan terwujud dengan keyakinanku detik itu untuk mencapainya atau hanya buaian ketenangan nurani semata, tetapi disetiap kudapat dorongan itu ada ego dalam jiwa ini yang melekat. Aku hanya mampu menggumam dalam hati sesekali tercurah lirih melalui lisan.

Aku banyak belajar dari Tragedi 21 Nopembar ’12 seminggu setelah hari ultahku yang ke-19th, masa transisi yang aku rasakan udah menuju kedewasaan dalam setiap pola kehidupanku. Tetapi hari itu aku lumpuh terbujur kaku diatas ranjang putih yang beroda pada setiap sisinya. Aku tak menduga apalagi membayangkan kejadian itu kan seperti itu. Memang tak seperti biasa aku praktikum menyusul kelas lain. Selama setahun kuliah setiap praktikum aku pasti ikut  kelasku sendiri yang telah ditetapkan jadwalnya oleh pihak prodi yaitu bagian ka.Laborat dg masing-masing dosen pengampu.  2 semester berturut-turut aku mengikuti jadwal yang telah ditentukan & kujalani setiap prtemuan dgn kedisiplan yg kupunya walau pernah sekali aku tidak masuk, itupun pada waktu materi bab udah selasai semua, yang aku rasa udah ndak penting karena cuma pendampingan buat laporan resmi yang sebelumnya uwdah pernah buat 2X disemester pertama (tp dalam hati kecilku meronta..merasa tak enak meninggalkan amanah pertemuan itu), tak tau nafsu apa yg mendorongku meninggalkan pertemuan itu. waktu itu aku juga tak berniat untuk meninggalkan pertemuan itu, tp entahhh kehendak drNYA atau mungkin suatu rayuan malas dengan mengacuhkan pertemuan itu, waktu itu aku diajak k”k tingkat maen kerumahnya. Yakh….cuma sekali itu ingatku aku tak mengikuti praktikum selama  2 semester.

Kedua kalinyaaku tak mengikuti praktikum diawal semester 3 pertemuan kedua. Itupun karena diwaktu itu aku jg punya niatan baik untuk  bantu ortu, toh menurutku jadwal praktikumku termasuk hari prtama dibanding kelas lainya-, jd bisa nyusul keesokan harinya. Waktu itu aku membantu bercocok tanam dikebun, karena itu moment spesial dr semua petani sekitar, karena hujan pertama yg turun setelah musim kemarau beberapa bulan yg lalu. Kalho awal musim penghujan dikebun pasti rame…para petani sekitar bercocok tanam, berusaha bergulat dg alam untuk menyambung hidup dgn harapan dapat berbuah dimusim panen nanti. Akupun tak melewatkan moment tsb. setidaknya membantu dg apa yg aku mampu.. Ortukupun mengizinkan, katanya” terserah kamu yang penting ndak ganggu perkuliahanmu”. Begitulah pengertian beliau.

Tepatnya hari Rabu 21 Nopember ’12 aku berangkat praktikum yang tak seharusnya jadwalku, tp aku harus berangkat karena hari senin aku tak mengikuti kelasku. Hari itu aku rasa biasa-biasa saja seperti biasanya cuma “aku td malem mimpi laptop-ku rusak HDDny tak lebih dr itu-. Toh itu hanya mimpi jd tak berpikir apa-apa ditambah aku brangkat kuliah jg punya niatan install ulang setelah selesai praktikum nanti, karena emang udah lemot waktunya diinstall ulang . Jd kalho toh nanti beneran ada yang rusak dengan laptop kan bisa sekalian tanya ma temen-temen dikampus”. Tapi aku tak tahu dengan emak yg mungkin punya pertanda lain sebelum kejadian itu, karena orang tua biasanya lebih rentan dengan firasat ketika terjadi apa-apa pada buah hatinya. Seperti biasa hari itu aku bangun pagi,.. tp waktu itu tak begitu pagi sih- “tp syukurlah msh ada waktu buat menunaikan kwajiban menghadap sang khaliq”. Slesai itu kalho msh ada waktu luang biasanya kuregangkan otot-otot tubuh sebelum menjalankan tugas pagi yaitu  membersihkan kamar peliharaan, “sekedar senam pemanasan yang masih ku ingat pd pelajran Penjaskes waktu  masih sekolah menengah dulu”. Kalho emang mentok ndak ada waktu za langsung bersih-bersih tugas pagi (itung-itung udah olhraga karna dah ngluarin keringat  sekalian bantu ortu, jd sperti halnya pepatah bilang sekali dayung dua tiga pulau terlampaui). Selesai itu istirahat sejenak lalu mandi seperti biasa. lalu ganti pakaian lalu bercermin sekedar sisir rambut agar ndak risi orang yg memandang atau kadang jg memandangi rupa anugerah dr tuhan yang patut aku syukuri walaupun tak sesempurna Nabiyullah Yusuf as. Tp bagiku hidup ini emang sebuah anugerah dr YME yg patut untk selalu ku mensyukurinya. “siapa yang selalu bersyukur maka akan ku tambahkan nikmat untuknya”, begitulah sedikit aku mengerti dr firmanNYa yg pernah kubaca yg tertulis didalam mushaf”.

Entah kenapa waktu itu kupandang wajahku berbeda seperti biasanya, “tak tau mataku yang kabur akibat sering nongkrong didepan monitor atau kacanya yang buram karna jarang dibersihkan”. Aku merasa waktu itu wajahku memerah agak kehitam-hitaman sperti gosong. Pokoknya berbedalah hari itu dari hari-hari biasanya. “Tapi aku tak mempedulikan pertanda itu”, Selesai menyisir rambut ikalku yg agak hitam bergelombang (mungkin karena gen/turunan dari rambut seorang yg melahirkanku)”, ku lemparkan sisir ke atas  lemari kecil sebelahnya. Yakh,,,,begitulah kebiasaanku, sangat jarang aku meletakkan sisir dengan perlahan. Lalu  ku ambil ransel yang telah terisi keperluan untuk praktikum, seperti hari-hari biasannya ketika mau berangkat aku brpamitan pd ibuk & kdang jg bersalaman dgn adik juga, kalho ia duluan aku brangkatnya . Selesai bersalaman pada keduanya dg berharap ridhonya agar diberi kemudahan dlm menuntut ilmu, aku haturkan salam sbg do’a agar senantiasa kami sama-sama diberi kesalamatan olehNY . Aku berpamitan seperti hari-hari biasnya & emak bergumam yg kdang ku dengar lirih berucap “hati-hati nakk….”, yang entah dihatinya msh banyak do’a-do’a yang terselip buat diriku si sulung. Seperti biasa aku berangkat dianter bapak menuju jalan pantura yang selanjutnya naik angkutan umum untuk dapat sampai kekampus. “Yakhh…. uwdah besar tp msh dianter.???”..,itulah realita hidupku saat itu.,”bukan karena anak manja & bukan karena kehendak-ku dan kehendak beliau”, tp keadaan yg membuat seperti itu, hanya satu motor yang kita punya- jd aku mengalah tak memakainya karena bapak kdang membutuhkan sewaktu-waktu, jd beliau punya tanggungan untuk mengantarkanku. “Sebenernya aku malu uwdah kuliah msh dianter  sama ortu aplg aku seorang cowok”,tp aku mengacuhkan gengsi itu. Sebelumnya waktu SMA aku jg brangkat sendiri meski dg motor bebek tua itu, yg malah sebelumnya ngontel,..???. ”zaa… ngontel,.!!!”.,aku ngontel dr Sekolah Menengah pertama hingga kls XI Menengah Atas, emng ndak begitu dekat tp jg ndak terlalu jauh, jarak dr rumah kesekolah sekitar -+2km, “Lumayan..cukup berkeringat & kaki terasa kencang”. Tp kalho sekarang jarang aku temui tetangga-tetangga sekitar yg brangkat pake’ sepeda ontel.,”ndak jarang sih !!!”.,,bahkan udh tidak ada. Yakh…emang kemajuan zaman terus berkembang.

Kadang aku brangkat menuju pantura jg masih pengen ngontel dg speda federal-ku yg uwdah rapuh, saksi perjalananku menuntut ilmu slama -+12thn, Tp ortu ndak mengizinkan…”ndak tau mungkin beliau merasa iba jika melihat anaknya kuliah ngontel atw mungkin beliau ndak tega melihat diriku yg jg agak ragu-ragu dengan”. “pernah sih aku berangkat kuliah ngontel lagi sperti waktu sekolah menengah kemarin”, tp Cuma 1,2 kali seingatku. Uwdah sepatutnya aku bersyukur masih punya bapak yg selalu setia mengantarku setiap brangkat. Sesampai di pertigaan pantura tempat biasa stanby nunggu angkutan, aku turun dari boncengan beliau, kdang aku berpamitan dg bersalaman seraya mencium tanganya yang sudah agak keriput nan kasar (bukti perjuangan beliau menghidupi kami). Setelah berjabat tangan kuucap salam seraya berpamitan, “kdang jg  langsung berpamitan seraya mengucapkan salam tanpa menjabat tangannya.. – bila hati tak mood & banyak orang-orang disekitar yg membuat enggan untuk melakukan hal kecil yg remeh itu(tp sebenarnya itu  suatau hal yg sangat  mulia untuk dikerjakan menurut hati kecilku)”,. “Ya tuhan.,.,smg setelah ini aku bisa istiqomah tuk menjabat tangan beliau dan mencium tanganya , ketika beliau mengantarkanku kembali”. Setelah berpamitan aku harus menuju seberang jalan untuk bs mndapatkan angkutan umum, karena emang kalho mau berangkat aku harus menyebrangi jalan raya, karena itulah sisi kiri dari mobil yang melaju di jalan pantura itu. “Tak tau kenapa hatiku tergerak untuk cepat-cepat menyebrang.. aku tak tahu.??/..”.tp pd waktu itu emang udah ada angkutan langganan yg uwdah menyapa diseberang, tp yg kurasa tak seperti biasanya, “entah… ada dorongan kekuatan apa yg menghampiriku untuk melangkah”. Pdahal nampak jelas dalam pandangan msh banyak kendaraan berlalu-lalang, yang kusadari pada waktu itu adanya volume kendaraan yg melaju dari arah timur kebarat sedangkan yang dr arah barat ketimur aku lihat udah sepi.” Za .. aku menyebrang dr arah selatan keutara”. Sebelum melangkah menyebrang Dengan gayaku seperti biasa, “memegag HP digenggaman tangan yang seblumnya kubuka lock kipetnya walau tak ada panggilan atau sms- masuk”, tp itulah kebiasaanku waktu itu. “kemudian aku lock kmbali tombol HP jadul itu kemudian aku masukkan kesaku kembali walau kadang jg masih kugenggaman erat ditanganku”,  Mulai aku mlangkahkan kakiku menyebrang…. “kutengok arah kanan-kiri nampak jelas dari arah kanan banyak lalu-lalang kendaraan”, “aku coba sabarr..!!!”. Tp entah kenapa kaki ini segera tergerak setelah mata ini memandang ada kesempatan aman untuk menyebrangi jalanan itu, aku langkahkan kaki ini dengan rada cepat karena dari agak kejauhan ada mobil-mobil dr  arah timur semakin detik smakin mendekat, “aku berhasil melewati separuh jalanan itu kulalui untk sampai ketepi”, ttp tepatnya di seberang garis putih sbagai pembatas dua arah kendaraan langkahku terhenti, “entah kabut setan apa yg menutupi pandanganku atau mungkin pengendara motor itu berkecepatan tinggi sehingga aku tak menyadari kalho dr arah barat melintas motor yg sangat kencang ,..,”aku tak tau..?????.. semua terjadi begitu cepat detik itu,  brakkkkk.,.,.,!!!!!!..diriku melayang seakan terbang jauh diangkasa nan jauh, yg kurasa diriku fly & telingaku bergemuruh suara nyaring,….bak daun kehidupanku di-arasy tertiup topan… terasa nyawa melayang”, aku terpental sejauh beberapa meter, tubuh kurus itu tersungkur ditengah jalanan, aku tak tau detik itu aku sempat pingsan atau tidak, aku lupa…!!!!-semua terjdi seperti angin sepoy yang menyapa sejenak. Setelah aku tersadar tubuhku masih tergeletak ditengah jalanan itu, aku coba bangun tp apa daya aku tak mampu, tubuhku terasa berat… kakiku terasa kaku…” aku coba tuk terus bangun..tp hanya sejenak yg kumampu, tak sampai 90 derajat lengkungan tubuh, aku kembali tergelentang payah. Beberapa detik aku tersungkur kurasakan ada seseorang yg membopongku ketepi jalanan itu, beruntungnya tubuh itu tak jd santapan kendaraan berlawan…aku tak tau apa jadinya ketika  tersungkur ditengah aspal pantura itu jika yang membopongko sebuah kendaraan. “Ya Robbi…!!!, maha besar engkau”, Kau msh memberiku kesempatan untuk hidup dibumi-mu, Yang kutahu hanya kaulah yg maha kuasa atas segalanya.

Kemudian ditaruhlah sebujur tubuh yg Lemas,…Lemah….tak Berdaya… di ranjang bambu sebelah jalanan itu(yang biasanya aku buat duduk santae ketika lama menunggu angkutan datang). Disandarkanlah tubuh yg menguning itu ke-bayangan (ranjang bambu) tsb. Seketika itu berbondong-bondong orang-orang disekitar mengrumuniku. Aku tergeletak rapuh dengan kesaksian kehidupan sekitar & kendaraan-kendaraan yg melintas, “ketika ku tersadar diberilah segelas air putih oleh seorang ibu-ibu”, berharap tubuhku tak kaget gemeteran, kuteguk sedikit dr air putih tsb seraya kutanyakan HP-ku untuk menghubungi bapak. Dicarikan orang-orang disekitar, tp semua barang yg kubawa waktu itu tak karuan setelah terpental dr gendongan tubuh kurusku. Disodorkan Hp-ku yg uwdah tak berbaju lg (tanpa chasing) & tasku yg uwdah bolong-bolong akibat bergerusan dg kerasnya aspal pantura & morat-marit isinya (ada laptop ,mouse,hp modem,CD installer Win7,& Lembar-lembar catatan buat praktikum) uwdah tak karuan lagi dari bentuk asalnya.”Aku udah tak memikirkan lg smua itu masih bs digunakan atau tidak”. yang kurasakan kaki kananku melengkung dan sulit kuluruskan saat itu & kulihat orang-orang disekitar melihatku dg wajah memerah iba & ada yg cemberut kecut dg mata berkaca seakan mau menjerit melihat tubuh lemas yang terkapar. ketika itu semua panik bergerombol disekitarku & ada yang ku kenal  raut wajah remaja cewek (kakak kelasku waku Sekolah Menengah) yang bertungku disamping atas kepalaku dg raut wajah kwatir terucap kata : “ya-allah…kok iso koyo ngene iki mau py toh dk ??,,,”, seraya kasihan & sebisanya membantu menenangkanku pada kejadian itu. Ku hanya terdiam tak bisa menjawab apa-apa, karena aku juga tak menyangka akan seperti itu. kupandangi satu-persatu wajah-wajah sekitar disamping yg mengitariku walau rada tidak jelas yg terpantul dikornea, tp aku menemukan sosok yg ku kenal..seorang cowox yg seumuranku (aku mengenalnya dr temenku waktu SD yg pernah maen kerumahnya). aku minta tlg untuk menimbali bapak memberitahukan keadaanku saat itu, yg mungkin beliau msh dalam perjalanan menuju kerumah. Dia-pun bergegas mengambil motornya untuk mengabari beliau, yang sebelumnya tanya siapa nama beliau. Tp ku dengar  orang-orang sekitar berucap katanya uwdah ada yang menyusul bapak memeberitahuan keadaanku saat itu….

Beberapa menit berlalu- keheningan dalam otak-ku memikirkan & memikirkan… “betapa khawatirnya ortu bila mendengar kejadian ini”. tak lama kemudian sosok berbadan tinggi dg kumis tebal & jenggotnya yg khas menghampiriku, yang tak asing dipelupuk mataku… dia-lah yg menghidupiku selama ini… yakh ialah bapak…dgn  raut wajah yg panik dg memendam kekhawatiran ia menghampiriku sejenak, kemudian berusaha untuk membawaku ketempat medis untuk mendapatkan pertolongan, setelah beberapa detik mengobrol dg orang-orang sekitar, & disarankan kepuskesmas kecamatan tetangga sebelah, “karena dikecamatanku jam segitu biasanya belum buka”, kata warga sekitar (sekitar jam 7 kurang ¼ kejadian tsb). & jg mereka berpendapat peralatannya lebih lengkap puskesmas kecamatan sebelah. Akhirnya aku dibopong beberapa orang, yang 2 orang  tak asing dlam pandanganku yaitu bapak & teman sekelas sekolah menengah kmarin, yg tak sengaja lewat mau brangkat  bekerja tp tersendat untuk menemaniku kepuskesmas… dalam perjalanan ketujuan kakiku terasa begitu menggelegar sakit…”ya Allah…begitu perih yg kurasakan detik-detik ini”..dipunggung motor beroda tiga (tosha orang-orang menyebutnya) aku merintih dg suara manja…ditambah jalanan yang bergelombang, diatas pangkuan mereka terus kumerintih kesakitan…. mereka hanya terdiam menatapku dg iba dg wajah melas. Sekitar 900 detik perjalanan aku terus merintih kesakitan…  rasanya beberapa kali lipat dari tersengat arus listrik yg pernah kurasakan.

Sesampai dipuskesmas tubuh lemas layu diturunkan dg sangat hati-hati.. dgn perlahan mereka membawaku dalam ruangan. Dibujurkanlah tubuh rusak itu… tak lama kemudian beberapa orang berbusana putih khas dinas mereka menghampiriku..disamping tubuhku bagian atas seorang perempuan yg manis yg seumuran tante dg cekatan melontarkan beberapa pertanyaan ttg bagaimana kronologi terjadinya tragedi itu ??, aku jawab dengan jujur sejujurnya- walau mungkin tadi aku sempat tak sadarkan diri.  yg aku tau mungkin kebenaran  jawabanku    membantu diagnosa  medis mereka.  Seraya pertanyaan- pertanyaan itu kujawab, dibagian kaki-ku ada mas-mas yang menata kaki rusak itu. “Dipotonglah separuh celana bagian kaki kanan, dg perlahan dipasang 2 penyangga dibagian kanan kiri & kemudian dibalut dengan banyak lilitan  kain putih. Beberapa menit berlalu datanglah sosok wanita pelita hatiku dg krudung hijau gelap , tubuh yang mungil & wajah cantik manist walau sudah berbuah 2 kesatria harapan. Tp menurutku ia masih terlihat cantik walau uwdah agak keriput tergerus usia… & pernah kudengar dr cerita tetangga katanya,” waktu remajanya lebih cantik daripada yang aku tahu saat ini”,sehingga bapak bisa terpikat pada sosoknya yg hanya dr keluarga wong gak duwe . Tp raut wajah yang anggun yang ku kenal itu tak seperti biasanya, hari itu terlihat murung dengan mata merah bekas linangan air mata dg penuh kekhawatiran. Aku tahu sebelum sampai disana mungkin beliau sudah menangis ketika mendengar kabar dg apa yg terjadi pd diriku saat itu. Dipelukklah tubuh kurus yg lemas dengan penuh kesedihan & kehikmatan yang trasa didalam kalbu. Tak lama kemudian dibawalah diri ini keruangan Rontgen untuk mengecek keadaan yg terjadi didalam luka-luka tubuh saat itu. Selesai sudah diruangan itu diri ini ditaruh kembali ketempat semula, dibujurkan lurus disamping ranjang-ranjang yg sama. Beberapa menit kemudian seorang mas-mas (perawat jg) yang sudah berumur matang menghampiriku & memprediksi apa yg terjadi pada diri ini, ia mengobrol dg kami yang ada diruangan itu, khususnya pada diriku & kedua orang tuaku. Beberapa prediksinya terbukti ketika hasil photo X-RAY tersodor padanya. Seketika ia menjelaskan dr  hasil diagnosa mereka. Kupandang lembar hitam bergaris-garis putih ditengahnya yg dipegang oleh mas tadi yg masih bersuara lirih  menjelaskan apa itu ??..  Aku tau itu gambar tulang kaki, tp yg kulihat tak sempurna tulang kaki yang pernah aku lihat waktu pelajaran biologi disekolah menengah yang lalu. Terlihat 2 tulang besar & kecil dalam bhs.biologi kemarin disebut dgn Tibia & Fibula (tlg. Kering & Betis) dua-duanya sama-sama tidak tersambung. Yakh…diucapkan lirih  & penuh dorongan motivasi pengertian mas tadi berucap “bahwa patah tulang yg terjadi pada penopang kananku, & bisa kembali seperti semula apabila dioperasi oleh dokter spesialis ortopedi.”…Hatiku tersentak..!!!, gemuruh tanpa harapan… air mataku-pun meluap seketika dg  merengeh suara tak jantan.  Yakh aku menangis waktu itu, walau waktu kejadian dan perjalanan menuju puskesmas tadi merintih kesakitan tp tak ada air mata yang keluar dari pelupuk mata yang berlentik manist,” kata seseorang yg kukenal kemarin.

Aku menangis bukan karena takut dengan operasi,..???..

Aku menangis bukan karena takut akan kelumpuhan..???..

Aku menangis bukan karena takut akan cacat tubuh ini,.??..

Akupun menangis bukan karena merasakn sakit kala itu,.???..

Bahkan rasa sakit tadi uwdah hilang seketika air mataku berlinang. “Aku menangis karena tak terbayang dalam benak ini akan terjadi separah  itu, yang terkira dalm diri ini hanyalah luka luar yag kutahu,mungkin dengan obat merah dan balutan perban akan sembuh”, tp apa…???.. patah tulang yg kualami, penopang tubuh ini telah rusak, dan akan disobek penutup dagingnya untuk dapat  menatanya & kemudian dijahit agar tertutup kembali. Yah…penyangga tubuh kurus ini akan dioperasi. Yang aku tahu biaya operasi itu sangatlah mahal, sedangkan diri ini hanyalah terlahir dari  keluarga yang sederhana… “Ya Robbi,,,, aku merasa tak berguna waktu itu.. hari itu aku hidup 19thn lebih 7hari belum bisa membahagiakan keduanya. Hari itu diri ini menambahkan bebanya”,terucap menusuk dalam sanubariku. Seraya air mataku menetes hingga menutupi pandanganku  kucurahkan kata-kata minta maaf pada kedua ortuku yang telah banyak merepotkan keduanya, emak memelukku berucap kata ringan” uwdahlah nak..!!! ndak usah ngomong kaya gitu, ibu tahu tentang tekadt dirimu, mungkin inilah musibah bg keluarga kita & mungkin ini suratan takdir yg tertulis pada dirimu untuk hari ini., untuk itu inilah tanggungan kami merawatmu sbg orang tua”, dg suaranya yang sesak terbaur tangisku, Terucap kata-kata yang tulus terlontar dari bibir tipisnya, betapa ikhlas pengorbananya  tanpa pamrih untuk buah hatinya. Seketika itu aku terdiam…meresapi bait-bait kata tersebut. Dan terhentilah tangisanku kala itu. Terlepas pelukanya, berlalulah tangis haru yang menyelimuti ruangan itu. Detik berlalu kemudian bapak  mengurus administrasi untuk merujuk diri ini keRumah Sakit dikabupaten,yang sebelumnya mereka berunding disampingku, yg kudengar saran dari pihak puskesmas terserah pada kami mau dibawa ke-RS mana”, beliau memilih RSUD milik pemerintah kabupaten setempat,mungkin karena alasan biayanya yg ada selisihnya lebih murah dr RS swasta, Dan juga sempat dijelaskan mas perawat tadi: “dokternya yg spesalis ortopedi diseluruh RS yg ada dikabupaten sama pak jd satu, Cuma beda fasilitas & pelayanannya aja pak”, begitu Penjelasan dr mas perawat.

Tak sadar tanganku memegang telingaku yg gatal, dan gemuruh suara nyaring waktu kejadian sesekali masih terdengar. Aku masukkan telunjuk jariku kedalam daun telinga..tak kuduga kudapati darah merah segar mengalir keluar dari pendengaran sebelah kanan itu..kemudian emak & temanku panik lalu memanggil perawat untuk menangani. Dibersihkanlah ceceran darah itu & dimasukkan cairan kedalam daun telinga tsb. “Aku tak tau entah itu cairan apa ???”… Tapi yg kurasa perlahan reda aliran darah tadi, yang sebelumnya jg disuntikkan jarum kelengan ini. Selesailah administrasi diurus, diri ini siap dibawa ke Rumah Sakit tujuan. Mobil ambulance stanby tepat didepan pintu keluar puskesmas dan siap mengantar kami. Dengan perlahan aku dimasukkan kedalam mobil putih dengan topi kecil berwarna merah diatasnya sebagai sirine identitasnya. Didalam mobil tsb. tubuh lemasku ditemani kedua ortu-ku & sahabatku yg ikut membopongko tadi. Dalam perjalnan diri ini sesekali merintih kesakitan menahan perihnya penopang tubuh yg telah rusak. Dalam perjlanan melewati jalanan yang bergelombang rasa sakit semakin terasa. Tak sabar diri ini Ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari puskesmas sampai ke-RSUD Kabupaten.

Sesampai ditujuan ranjang beroda disetiap sisi seginya diseret kedalam ruang IGD, seketika disambutlah oleh para perawat berbusana putih bersih..ada jg yang memakai penutup mulut yg warnanya putih pula. Sama sperti dipuskesmas tadi, disambutlah aku dengan sebuah introgasi. seseorang wanita dg bergegas & cekatan menghampiriku melontarkan kata-kata pertanyaan dg tegas. Kujawab satu persatu dr pertanyaan yg tercurah, serambi penopang tubuhku yg sebelah kanan diganti pakaiannya, “walau kulihat sebenarnya sama yaitu 2 balok penyangga & dibalut ikatan kain putih kembali,hanya saja beda bahan,tempat,& yg menatanya”. Kemudian ditusukkanlah jarum runcing ke lengan tepat pergelangan tangan,yg sebelumnya terikat jam tangan bundar hitam bercorak orange kini berganti dengan jarum dan selang menuju kantong berisi cairan isotonis, isohidris,dan lainya. Yakhh ,,,seketika dr ruangan IGD tsb. tubuh lemasku digelayuti INFUS, yang pertama kalinya kurasa spanjang hidupku saat itu.  Tak hanya pakaian penopang tubuh yg diganti, ranjang dr puskesmas tadi jg diganti, secara perlahan dipindahkanlah tubuh rusak itu, tp yg disini sungguh ngoyo (payah) kurasakan. Didampingi perawat, diri ini harus berusaha pindah sendiri, walau sangat payah (tak berenergi lagi) kurasakan. “Kumerintih melontarkan kata minta bantuan…”, tp dr salah satu perawat berucap:”uwdah mas usaha aja sendiri secara perlahan, soalnya nanti kalho kami yang mindahkan malah kamu kesakitan, karena kamu yang mengerti bagian-bagian tubuh mana yg kamu rasa sakit”, ayo…pelan-pelan pasti bisa !!!, begitulah lontaran semangat dr perawat ditempat itu. Aku-pun berusaha sekuat tenagaku yg masih tersisa, & sesekali nyengir kesakitan.Tak tega rasanya melihat buah hatinya ngoyo Pak tua berkumis berusaha membantu dg meng-awat-awati tubuh lemas itu. Padahal Cuma pindah ranjang yg sudah didempetkan dari yg samping kesampingnya, tp bagi tubuh yg rusak saat itu sangatlah berat ,karena pertama kali naik ranjang sebelumnya tadi aku dipopong kurang lebih 3 orang, jd  tak perlu mengeluarkan tenaga sepeserpun.

Dari ruangan tsb. Diri ini harus menunggu diruangan terbuka menunggu administrasi rampung(selesai) untuk mndapatkan sebuah kamar inap (opname). Beberapa menit kemudian datanglah seorang nenek-nenek dgn cowox gagah berkulit hitam manis membuntutinya,, dengan wajah pahit dan mata yang berkaca mereka menghampiriku.. “yakh mereka dok’e (nenek) & om-ku”. Nenek langsung memeluk cucunya yang terlentang lemas dgn tetesan air mata & ucapan yg tiada jelas kumengerti karena tersendat tangisanya. Sedangkan om- menanyakan mereka yg menabrak diri ini, ia tak trima..!!, inginnya segera menuntut kejadian perkara.” yakhh..itulah jiwa muda ketika emosi”, aku menyadarinya. Toh Pak Tua juga tak begitu memikirkan dg siapa yg menabrak diri ini. Za bapak tak tau siapa yg menabrak-ku karena waktu beliau datang ditempat kejadian, mereka sudah tiada,hanya diriku yg tersisa tergelentang dikerumuni warga sekitar. Beliau pasrah…fokus mengurusi buah hatinya dulu sebelum mengurus perkara kepihak yg berwajib. Opini-ku “mungkin mereka yag menabrak diri ini ketakutan & mungkin juga mengurusi diri mereka sendiri,yg sedikit teringat terlintas pd pandanganku merekapun tersungkur ditepi jalanan bersama tungganganya. Tp aku yakin mereka tak separah yang kualami, mungkin mereka hanya luka luar, lecet-lecet biasa dibandingkan diri ini yang telah rusak penopang raga ini.  Akupun jg tak tau rupa  mereka, karena kejadian begitu kilat & tak kusadari- Cuma terlintas bayangan pas kejadian itu sebuah motor yg ditungganggi 2 anak berboncengan berseragam SMA melintas & menghantam diri ini dg sangat kencang”.

Lama kumenunggu diruangan terbuka itu diri ini tak tenang dengan apa yg kutuju brangkat dari rumah tadi, kupanggil sahabat yg menemani diri ini, Ku pinjam Hpnya dan kumasukkan SIM card-ku yg msih tersisa berharap nomor-nomor dikontak HP-ku yg sudah tak bernyawa masih ada nama-nama melekat di card tsb. Aku buka dg tak sabar terlihat hanya beberapa nama yg msh tersisa, tujuanku yg kuhubungi pertama kali waktu itu ialah dosen pembimbing praktikum, inginku minta izin tak bisa mengikuti pertemuan hari itu dan mengabarkan keadaan diri ini, berharap dimaklumi & jg pengertian beliau. Kucari nama dosen pengampu praktikumku waktu itu…1,2,3 sampai beberapa pencetan tombol navigasi down kebawah akhirnya kutemukan nama beliau masih melekat disana dengan cekatan jari jempolku memencet tombol berwarna hijau disampingnya.”Tutt….tut…..tut….!!!”,suara nada tersambung . Tetapi tak diangkat & tak juga ditolak. Kucoba sekali lagi memanggil nomor tersebut berharap suara beliau yang menyambut, tapi sama hasilnya hanya nada sambung yg kudengar. mungkin beliau sibuk mengurus anak-anak, &  Akhirnya kuputuskan mengirim pesan singkat aja. “Klunting…!!!, diiringi dg getaran”, pesan tersampaikan. Kutunggu beberapa menit tak ada balasan. Akhirnya kubuka kontak lagi sembari otakku mengingat-ingat teman sekelas yang rumahnya dekat sekitar RSUD tsb. Dg harapan bisa menemuiku saat itu,.. tombol navigasi kembali kupencet down kebawah dg perlahan..akhirnya kutemukan nama itu… dg agak tenang kupencet kembali tombol hijau.”Tut…tut…tut…nada sambug kembali kudengar”, tp kali ini tak sampai 30 detik ada suara menyapa. Diawali dgn “hallo…assalamu’alaikum…”, kemudian kubalas salamnya dan kusambung kalimat berturut-turut kuceritakan semua kejadian  yg  terjadi pada diri ini saat itu, ia berkata posisinya ada dikampus tepatnya dilaborat jaringan yaitu sebelah lab. Pemrogaman yg dibuat praktikum waktu itu..”wah..hatiku agak lega untuk izin absen pertemuan tsb”. Aku titipkan izin & salam pada dosen pembimbing praktikum & memberitahukan tentang apa yg terjadi pada diri ini.

Beberapa menit kemudian ia datang bersama 2 temanya yg tak asing aku kenal. ”yakhh… mereka teman sekelasku semua”, mereka menghampiriku yg sebelumnya bersalaman dengan beberapa orang yang menemaniku kala itu. Mereka kaget dengan apa yg terjadi pd diriku saat itu, karena yg mereka tahu  biasanya aku brangkat kekampus naik angkutan, dan untuk resiko kecelakaan sangatlah jarang terjadi, “toh kalhopun terjadi pastinya massal & infonya pasti lebih cepat menyebar”. Mereka kira hari itu aku  brangkat naik motor shg sampai keclakaan, tp dugaan mereka salah,”diri ini masih biasa berangkat dengan angkot antar kecamatan-kabubaten. Hanya saja sebelum sampai naik kedalam angkot diri ini tertabrak motor waktu menyebrang”, begitulah ringkasnya kuceritakan pada mereka, & aku jg bertanya heran pd mereka, “kok mereka ada dikampus sedang apa ?..”  aku kira hanya diri ini yg menyusul mengikuti jadwal kls sebelah. ternyata mereka juga masuk untuk  mengikuti susulan praktikum kemarin. Kami-pun mengobrol ringan & keharuan mereka milihat keadaan diri ini, beberapa kalimat dari mereka tercurah menyemangati tubuh lemas itu.

Setelah cukup lama diri ini terkapar diruang terbuka itu, akhirnya didoronglah ranjang itu kedalam ruangan. Diletakkanlah sebujur tubuh  layu itu disebelah pojok ruangan yg telah disediakan dan kulihat disamping diri ini ada beberapa orang-orang yg terkapar diatas ranjang yg sama. Diruangan itu Sejenak diri ini memandang orang-orang disamping yg gelempangan bermacam usia & kondisi yg berbeda-beda, tp tak sampai 15menit rasa sakit…perih…panas….menghampiri, sekujur tubuh terasa pegal-pegal mulai terasa pada tubuh layu itu tepatnya dibagian penopang tubuh bagian tumit. “Aku tak tahan…dan kemudian menjerit kesakitan”, penopang tubuh itu terasa kencang & terasa sangat-sangat panas dibagian tumit, panasnya trasa melebihi ketika terbakar api yg pernah diri ini alami waktu lalu. Orang-orang yg ada diruangan itu bingung dan kasihan melihat diriku merintih. Dalam rintihan yg berjalan, datanglah temanku waktu SMA,tetangga,kerabat,& teman kerja bapak menjenguk diri ini. Mereka menghampiri diriku dgn bergantian, Ada yg berbisik mesra untuk bersabar, ada yg memotivasi agar diri ini tetap tegar, ada yg melinangkan air mata, & ada juga yg keluar ruangan  tak tega melihat deritaku  saat itu. Semua yg ada ruangan itu haru melihat diri ini merengeh. “Mungkin fungsi tubuhku mulai tak stabil akibat dari luka-luka & terpisahnya tulang yg mulanya tersambung, sehingga aliran darah tak normal, mungkin jg darah dipenopang tubuh pengen keluar tp sulit karena terbelunggu rapat, sehingga darah terkumpul menuju ketumit dan mengendap disitu sehingga terasa panas yg luar biasa kurasakan”, sesekali kuminta untuk mengkompres (mengoleskan kain basah) ketumit yang terasa bak terbakar api biru. Tp hanya terobati sekejap & selanjutnya terasa perih kembali. Berangsur-angsur kumerintih akhirnya terasa hilang rasa panas itu  tertelan detik-detik itu. Kemudian Tak tahu apa sebabnya diri ini dipindahkan ruang sebelah setelah teman-teman Pak tua datang kesana, diruangan yg ini lebih kecil, tp lebih tak semrawut drpd ruangan sebelumnya. Dibandingkan ruang yg sebelumnya terisi lebih dari 5 pasien sedangkan ruang yang ini 3 pasien tak lebih.  Disana mulailah diri ini dapat asupan perawatan. Jarum jam terus berputar,waktupun berlalu dari  siang ke sore kemudian menjelang petang. Dari beberapa orang-orang yang menjengukku tadi berangsur berpamitan, diriku sesekali masih merintih kesakitan & telingaku msh terlalu sering terdengar bunyi gemuruh diwaktu  itu.  Tepat ba’da maghrib ada orang yg tak kami kenal menghampiriku menjabat tanganku lekas pada kedua ortuku.”dengan awalan pembicaraan tenang, mereka mulai mengobrol dengan kedua ortuku”, Iza ternyata mereka ortu dari anak yg menabrak diri ini dipagi kala itu. Cukup lama mereka berembug.. Yg kusimak dari pihak mereka menyelesaikan masalh ini dg kekeluargaan tanpa ada pidana. “Yakh…bisa saja perkara itu diurus dg hukum pidana, karena kejadiananya di jalan raya & sudah tercatat oleh pihak yg berwajib”. Sedangkan diri ini korban. Walau sama-sama dari kami tidak merencanakanya. “Yakh…mungkin kala itu kehendak illahi suratan perjalanan hidupku”, ucap hatiku.  Dan pada akhirnya ortuku sependapat dg mereka untk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja dgn harapan saling pengertian akan kedaan masing-masing. “Yakh…sebelumnya uwdah aku tebak didalam hati dari rembug mereka akan seperti itu keputusanya”, karena yg kutahu ortuku bukanlah orang yg kolot,ttp keduanya adalah sosok yg lemah,lembut (khususnya pd pak tua),toleransi, peduli, & pengertian pada kehidupan sesama. Setahuku mereka tak pernah punya musuh & tak suka bermusuhan dgn orang lain. Sehingga dg tetangga sekitar kurasakan hidup rukun bersamanya.

Malam pertama aku menginap diruang itu… yang kurasa masih panas,perih tumitku. Dan kurasa juga penopang yg rusak terasa membengkak & makin lama makin kencang dalm ikatan kain putih. Dalm hati berharap kan segera diperbaiki oleh dokter bedah spesialis ortopedi ttp dari perawat-prawat yg mengurusi tubuh ini ketika kami tanya katanya masih menunggu kondisiku benar-benar pulih & HB mencapi ketentuan. Yakh…ku bersabar dimalam itu berharap esok kondisi badanku bs mencapai normal  untuk dibedah. Keesokan harinya hari (tepatnya hari kamis) temen” sekolah mengah ,tetangga,saudara bapk,saudara ibuk, & kerabat-kerabat berangsur-angsur menjenguk diri ini. Yakh… hati ini terasa bungah ketika ada  yg menengok. Mungkin ini benar adanya yg pernah aku dengar, “bahwa orang yg sakit tak butuh apa-apa, kecuali perhatian,kepedulian, dan kasing  sayang”, yakhh….itulah yg kurasakan. Mulut yg kering terasa pahit tak nafsu untuk melahap makanan disamping yg bertumpukkan.  Hanya sedikit bubur lunak dari menu perawat & buah-buah segar yg masuk dalm tenggorokanku. Hari itu berlalu sampai larut malam masih berangsur kerabat-kerabat yg menjenguk diri ini. Tubuh yg semakin layu itu berharap ingin segera diperbaiki, tp saat itu masih penantian yg tertunda.  Ketika ada perawat yg ngasih asupan makanan & suntikkan diselang infus sesekali masih kutanyakan,”kapan penopang tubuh ini akn dibedah?..”.  tp jawabanya masih belum melegakan hati yg gundah saat itu. Kata mereka,”dokter I yg spesialis bedah ortopedy tak enak badan, beliau sakit”. Yakh,,,kusadari dokter juga manusia pastinya jg akan sakit.  Harapan hari itu sirna…hanya ketabahan yg mampu buat diri ini bertahan.

Keesokan harinya jum’at 23-11-’12 diri ini masih lemah diruangan itu, tetangga”,kerabat”,temen” sekolah, menjengukku. Bedanya dgn hari kmrn, hari ini hadir teman-teman kampus seangkatan-sekelas & bergantian disusul teman-teman dr komunitas yg aku ikuti, serta ada seseorang yg ku kenal kmrn, yakh…si de”k keong aku memanggilnya,& dia memanggilku akaak kodok (yakh..itulah panggilan pertemanan dekat kami) . aku tak tau kok dia bisa barengan ma temen-teman komunitasku, tp aku tak begitu heran karena ia yg kukenal emng anaknya freandly mudah berteman pd siapa saja . mungkin wajahnya yg sumeh murah senyum yg membuat ia mudah bergaul, mski aku tau dia jg cengeng sebenarnya. Diri ini yg layu terasa tersiram air yg segar. Aku bahagia dg kepedulian mereka,melihat canda-tawa temen-temen saat itu & sesekali juga mereka menghampiriku dg wajah kekhawatiran….kesedihan…..kelucuan…keusilan…dorongan kalimat untuk tetap tegar… semua tercampur indah dr wajah-wajah khas yg kukenal dr mereka.

Berangsur senja hari itu, bergantian kerabat & teman-teman yg  menjenguk. Semakin lama terasa penopang tubuh layu itu semakin berkembang, “bak cetakan roti jadi yg ada didalam oven”, yg makin dibiarkan makin mengembang.  Yg kurasa semakin mengeras kugerakkan. Pk tua berusaha mencari alat untuk bisa melonggarkan celana yg kukenakan. Dibantu dengan mas  ka”k tingkatku yg baru saja wisuda kemarin, diguntinglah kembali jeans yg sebelumnya uwdah tinggal separo itu. Kurasa saat itu agak mendingan. Hari itu aku jg ditinggali HP olh Mas k”k tingkatku yg jg uwdah kenal pada kedua ortuku. Dgn harapannya bisa buat hiburan dg kondisiku saat itu. 3 hari disana tubuh layu itu msih belum ditata sepenuhnya, hanya asupan menu,obat,& suntikkan yg kuterima. Malam itu keluargaku & semua kerabat yg ada disana sangat  khawatir dg tubuh layu itu yg uwdah 3 hari 3 malam belum ditangani sesuai harapan. Kedua ortuku beserta saudara pak tua & juga rekan kerjanya berunding untuk bisa mencari jalan keluar dgn kondisiku yg samakin memburuk. Pendapat paman ingin dirujukkan ke solo yg uwdah tenar dalam penanganan ortopedy. Tetapi pak tua & rekannya punya solusi lain, yaitu menemui langsung dokter yg akn menanganiku. Selesai berembug dgn keputusan bersama akhirnya bapak & rekanya menuju ketempat praktek dokter yg dimaksud. Ditemui ditempat prakteknya, katanya emang agak ndak enak badan pak dokter. Dari tempat dokter tsb. Berbuah harapan untuk segera menangani tubuh layu itu. pak dokter menyarankan untuk dirujukkan kerumah sakit swasta sebelah, dgn alasan jadwalnya diRS yg aku tempati itu hari senin baru ada jadwal lagi untuknya & itupun akan menangani pasien sebelum saya yg telah direncanakannya.  “kalho masih diRS itu mungkin saya bisa operasi putra bapak hari senin, soalnya saya sudah ada jadwal operasi pasien lain sebelum putra bapak, hari minggu biasanya saya libur, kalho diRS swasta sebelah insya-allh besok pagi menjelang siang putra bapak sudah dioperasi, dgn catatan sebelumnya pagin sekitar mulai jam stengah 4 suruh ia untuk mulai berpuasa”,Begitu kata pak dokter yg diceritkan pak tua pd kami yg ada diruangan itu. Seketika usai cerita tsb keluargaku & dibantu dg rekan pk tua mengurus untuk mencabut paksa untuk dapat merujuk keRS swasta sebelah. Malam itu diriku terasa semakin payah…tumit terasa semakin panas,perih..diri ini merengeh kesakitan.. & kusuruh ibu untuk memanggil perawat untuk dapat suntikan lagi. Za…sebelumnya kurasa setelah dapat suntikkan itu panasnya tumitku terasa reda. Tp malam itu aku tak dapat suntikkan lagi karena sesuai resep uwdah cukup tadi.”dijelaskan oleh perawat wanita yg berbibir tipis menjelaskan kepada diri ini”. Mungkin ia kesal bolak-balik dipanggil keruangan itu. Dg permulaan kata yg halus…”ada apa lagii ???…masih terasa sakit za mas ??.., emang yang namanya patah tulang za seperti itu rasanya sebelum dioperasi”. Dilanjut dg nada menantang nan cerewet, :” kalho nanti saya kasih suntikkan lagi nanti malah jantung anda ndak kuat…!!!!, & malah akan  beresiko fatal pada diri anda, emang setelah saya suntikkan lagi nanti akan terasa reda.  Tp semua pakek aturan mas..????.. semua uwdah ada resepnya masig-masing…jd mas yg sabar.. kalho mau nangis silakan… kalho emng itu dapat meredakan rasa sakitmu”. Begitu lontaran kalimat wanita perawat tersebut, yg seakan ikut merasakan sakitnya tubuhku kala itu. Seketika diriku terdiam & mengerti akan aturan medis. Dengan ketabahan & sesekali nyengir merengeh kesakitan kulalui malam itu. Toh besok aku jg dah pindah dari tempat ini dan akan menjalani harapan kesembuhan meski mungkin kan sakit rasanya dibedah.

Malampun berlalu .. ufuk fajar merahpun merekah. Seketika itu aku bangun untuk sahur,  menjalankan saran perintah dr dokter untuk berpuasa sebelum dioperasi. Dengan nasi lembut yg dipocong daun pisang & kerupuk yg tak berminyak bawaan dari kerabat, disuapilah diri layu itu oleh seorang yg melahirkanku. Kalhi ini dgn agak lahap aku menyantapnya, karena emang tak sabar agar segera diri ini diperbaiki. Selesai sahur mulailah diri ini berpuasa,”entah…itu puasa apa yg aku jalani aku tak tau…-hari ini hari sabtu”, yg penting aku menjalankan peirintah dr seorang dokter yg akan menangani diri ini. Mentari pagi beri salam lagi, suara burung menyanyi kusambut hari berganti.  Keluargaku yg disana mulai berkemas & pak tua mengurus administrasi untuk mndapatkan surat rujuk’an (yg sebelumnya tadi malam belum tuntas spenuhnya). Setelah selesai dr tempat administrasi & dibayar seluruh biaya opname& perawatan diri ini. Kami masih menunggu untuk mendapatkan izin dari kepala ruangan yg belum datang. Tak sabar diri ini ingin segera beranjak. Setiap ada perawat yg lewat didepan ruangan itu ibu menanyakan , “mbk/bu/mas/pak….kepala bagian perawat sudah datang apa belum..??…”, beberapa kali terlontar pada setiap  perawat yg melintas. Tapi…beberapa kalhi terjawab BELUMM…. & pd akhirnya ada yg menjawab: “Kepala bagian ruangan ???…lah…barusan yg tadi ibu tanya itu kan bagian kepala ruang toh buk..!!!”, yg sebelumnya ia melihat ibu bertanya pada kepala bagian ruang tersebut. Tp jawaban dari perawat yg sebelumnya itu bilang..”belum datang bukk..!!!”, seakan tak punya dosa.  Ibu kecewa dengan kepala bagian ruangan. Kenapa ia tidak jujur,beliapun kesal & diriku jg merasakan yg sama. Seakan rujukkan keRS swasta dipersulit. Padahal kami bayar penuh (yakh…ternyata saya dirawat disitu dibayar penuh oleh pak tua, yg sebelumnya emng ditawari dr pihak RS untuk mengurus keringanan biaya) sebelumnya emang pak tua mau mengurus surat-surat itu, tetapi ketika kepala rekan kerjanya datang disarankan untuk bayar penuh saja dengan harapan diriku akan segera ditangani (yakh….itulah harapan keluarga). Tapi apa nyatanya….???.. diriku masih belum ditujukan keruangan bedah selama 3hari 3 malam disana… malah sekarang mau merujuk keRS swasta sebelah seakan diri ini dipersulit..???.. padahal semua biaya selama kami disana udah terbayar LUNAS… aku sempat emosi…dalam hati kecilku menangis . “apakah ini yg namanya pelayanan kesehatan untuk rakyat,,,??..diRSUD ( berlabel negeri) dikelola pemerintah daerah dg anggaran beberapa persen dr dana APBD yg (pernah ku membacanya dimajalah A#B#R milik pemda stempat),,sunguh mengecewakan. Aku sebal saat itu seraya kuberpikir.. ” bagaimana dg saudara-saudaraku  yg senasib dg keadaan   saya,,,, atau yg lebih parah dari yg kurasakan saat itu… yg malah menggunakan jamkes/askes atau yg lainya ???..”.  apakah mungkin ditangani dg sungguh-sungguh..????.. dgn cekatan…????….apakah dgn keseriusan..?????., atau apakah dibiarkan…???…diacuhkan…????…sehingga komplikasi yg lebih parah daripada sakit yg diderita sebelumnya. Atau malah nyawa yg melayang gara-gara lamban-nya penanganan, yg beberapa hari lalu gencar media menyiarkan. sebuah realita buruknya kinerja pelayanan masyarakat. Emang berita yg kulihat kemarin benar adanya…aku merasakan hari itu….hatiku sakit saat itu…dgn pelayanan yg  kurang  cekatan.  Beberapa menit kumenunggu  sesekali tubuh lemasku meronta.. dan kaki kiriku yg sehat menjatuhkan papan nama pasien yg menggantung dibawah dekat kedua penopang tubuhku. “Yakh….emng sengaja aku menjatuhkannya karena kekesalanku saat itu”.  Setelah beberapa menit berlalu akhirnya datanglah seorang dokter spesialis syaraf didampingi para perawat yg menngani telingaku yg sempat mengeluarkan darah kemarin. Dokter yg berpostur tak begitu tinggi itu bersih,sopan,baik,& penuh pengertian, sangat  berbanding jauh dengan kepala perawat yg ketuss tak berperikemanusiaaan. Saat itu juga dilepaslah jarum yg menancap dilenganku, kemudian didoronglah keluar ruangan tsb, dgn diringi kedua ortuku. Sambil membawa  sebagian barang-barangnya, yg sebagian lagi dibawa om dan paman. Lumayan jauh ruangan yg kutempati menuju pintu keluar RS, karena emang RSUD tsb, cukup luas. sepanjang perjalanan tubuh yg terlentang dg selimut putih itu setiap melintas  menjadi tatapan orang-orang yg ada disana. Pandanganku jg sesekali menatap kanan kiri & depan lajunya ranjang berjalan. Kulihat ada bapak-bapak yg tak asing dimataku dg berbusanan rapi dg tas ransel dipunggungnya, yakh,,, beliau dosen yg pernah mengampu mata kuliahku selama 2 smster, disemester pertama mengampu MatKul P.TI & dismster 2 beliau mengampu MatKul  MatematikaII.  Kusapa beliau dengan suaraku yg lemas… yg semakin dekat berlawanan arah bersimpanagn dgn ranjang berjalan itu, kupanggil namanya beberapa kali dan akhirnya beliau tersadar kalho ada yg manggil namanya. setelah bersimpangan agak berjauhan. Iapun memandangi wajah yg memanggil namanya, & beliaupun masih ingat denganku. Dg sama-sama melangkah berlawanan sempat  kudengar beliau melontarkan pertanyaan “ kenapa..???..”, , kujawab dg suara lirih..”Kecelakaan Pakk…”.  kami pun saling menjauh dgn arah berlawanan. Mungkin beliau juga tergesa-gesa mau menjenguk sanak-saudaranya(dlm fikirku). Akhirnya sampailah ranjang beroda didepan pintu keluar utama RS tsb. Dg tubuh layu yg menungganginya & ditemani 2 perawat & kedua ortuku sdangkan paman & om mencarikan mobil yg akan mengantar kami. Beberapa menit menunggu…akhirnya tibalah mobil colt yg agak mirip dg angkutan yg biasa antar-jemput ketika menuju kekampus..yakhh…hampir mirip, Cuma bedanya ini ndak berplat kuning-tp hitam yg menunjukkan mobil pribadi (menurut yg saya ketahui), tp nyatanya mobil itu katanya biasa mangkal didepan RS tsb. Untuk menawarkan jasa pengantaran para pasien yg ingin merujuk/pulang kerumahnya. Aku jg tak tau kenapa ndak diantar pakek ambulance RS tsb, pastinya dr pihak RS punya ambulance dongk. Yakh…saat itu aku ndak terlalu mempermasalahkan itu, mugkin aja dg rental sendiri lebih ringan biayanya???, mungkin juga gara-gara keluarku dr sana cabut paksa???, shg ndak boleh pakek ambulace disana … atau mungkin ambulance-nya kepakek semua,.????…za sudahlah…mau pake kendaraan apa ajja yg penting dpt sampai tujuan dngan selamat. Setelah beberapa puluh menit perjalanan Sampailah disana, disambut diri ini dg ranjang yg berbeda kembali, usai turun dr mobil tsb yaitu masih dihalaman RS diri ini berpindah keranjang yg telah tersedia. Dimasukkanlah langsung tubuh layu itu keruang IGD. Yg kurasakan disana nuansanya berbeda dr RS sblumnya, disana lebih sejuk, perawatnya lebih ramah,dewasa,& terlihat berpengalaman. Sampai diruangan IGD disana diri ini langsung dihampiri seorang perawat cowox & diberikan infus kembali, yakh,,,, menjelang 4hari itu tanganku ditusuk jarum kembali.  Usai diberi infus diri ini detelanjangi…yakh..kaos putih yg agak ketat (kado dr seseorang) yg kukenakan kulepas perlahan dg bantuan mas perawat td, yg sebelumnya hem merah udah terlepas diRS sebelumnya.  kemudian deguntinglah celana jeans pensil yg tinggal separo itu,& daleman  juga digunting agar terlepas (kerena tak mungkin aku bisa melepaskan sendiri kalha itu), jd semuanya digunting dr tepi pinggangku. Aku tak tau masalahnya, mungkin agar mudah dlm menjalankan operasi nantinya, setelah semua yg kukenakan terlepas dr tubuhku ditutuplah tubuh layu itu dg selembar selimut berwarna hijau & ditutuplah rambutku dg penutup khusus . Tak ada introgasi disitu, za Cuma sekedar tanya kejadian & kpan ??,,tak lebih dari itu,  yg sebelumnya dipuskesmas maupun RS umum setiap pertanyaan & jawaban dariku ditulis pada sebuah lembaran.  Nampaknya pihak RS disitu uwdah diberi tahu semua ttg keadaanku sama dokter spesialis ortopedi yg ditemua pak tua & rekannya td malam. Sehingga kdatanganku langsung disambut dg persiapan untuk bedah. Sempat dalam benakku bertanya-tanya, “knapa sih selimut & penutup kepala itu berwarna hijau ???”, sekilas aku mengingat ketika menonton sinetron yg ketika ada adegan peran masuk rumah sakit & dibawa keruang bedah sebelumnya rata-rata  emang beratribut berwarna hijau,  tp mungkin jg itu simbol warna RS tsb, yg kulihat sebelumnya dr luar dinding RS tsb. Berwarana hijau khas simbol identitas mereka. Cukup lama diri ini menungu diruang IGD yg sesekali diajak ngobrol mas perawat tdi, dg wajahnya yg sumeh (ramah)  ia melontarkan kata-kata semangat & juga cerita-cerita kejadian pasien yg pernah ditangani yg sama seperti yg kualami saat itu. Sesekali kami jg becanda layaknya obrolan anak muda pd umumnya, yg cukup memebuatku tersenyum & tertawa kecil dg kondisiku saat itu. Rasa sakit yg terasa kemarin semakin lama-semakin larut dlm obrolan kami. Cukup lama diruangan itu menunggu kehadiran dokter, setelah sekitar 4jam diruangan itu kemudian tubuh layu itu dibawa keruangan Rontgen untuk melihat keadaan penopang tubuhku yg rusak sebelum dioperasi. Setelah dr ruangan Rontgen tsb. Kemudian dibawalah diri layu itu keruanagn ICU dg diiringi kedua ortu yg sebelumnya emak memelukku dg cemas diiringi kata-kata semangat untuk tubuh layu itu & lontaran-lontaran do’a agar operasinya dpt berjalan dg lancar. Kemudian Masuklah tubuh layu itu diruangan yg tertutup rapat dg label steril disetiap dindingnya. setelah para perawat menempatkan  ranjang diposisi pemberhentian lalu mereka meninggalkanku sendiri diruangan sempit bak lorong gang itu.  Aku kira diruangn itu tubuh layu akan dibenahi, tp  diri ini masih menunggu,, beberapa menit kemudian datanglah ranjang yg sama dg kostum yg sama, hanya saja diatasnya seorang yg uwdah lansia yg juga akan dioperasi. Ditaruhlah ranjang itu tepat disamping ranjang yg kutempati. Sesekali kami saling melontarkan pertanyaan.

proses operasiWaktu berlalu diruangan itu kemudian diriku dibawa keruangan yg sebenarnya..yakh…diruangan operasi, ketika ranjang yg kutempati itu  dibawa masuk dikawal ketat oleh beberapa perawat berseragam hijau dg pelengkap penutup mulut & jg  tangannya. Yakh diruangan itu lebih sangat steril dari pd gang ICU yg kutempati sblumnya, nampaknya tak boleh ada seekor lalat yg masuk. Sampai-sampai waktu diriku dimasukkan ada lalat yg tak sengaja sampai ikut masuk- .”rame bukan main diruangan itu”, mereka berusaha mengelurkan lalat tsb. dg suara gertakan-gertakan..”husstt….husttt…!!!“, sampai mengeluarakan senjatanya yaitu semprotan-semprotan cairan, entah apa cairan yg digunakan ????,aku  tak tahu. Mereka juga pada heran dg kedatangan lalat tsb. yg sebelumnya ruangan itu uwdah diseterilkan dg alat-alat disana .  & kudengar kalimat yg lucu terlontar dr salah satu mereka gara-gara 1 lalat yg masuk tadi, katanya,” seharuse dipasang tulisan LALAT DILARANG MASUK bro,,,biar aman. !!!., he he,,rekan-rekanya menertawakannya sambil menyetujui perkataan temanya tdi, akupun tersenyum malu mendengarnya. Setelah berhasil membasmi lalat tsb. & yakin tak ada lagi rekan-rekan lalat yg sudah mampus tadi atw serangga or viruus-virus yg masuk mereka melanjutkan menerusakan perjalanan yg  tinggal beberapa langkah lagi membawaku ketempat yg sebenarnya. Yaitu meja operasi, yg bergelayut kabel-kabel sampai didinding langit-langit ruangan itu ,alat-alat besar ada disampingnya, sampai lampu unik bundar dg bola-bola lampu yg banyak didalmnya , yg baru aku lihat detik itu.  Disandarkanlah tubuh layu itu dimeja itu. Kemudian mereka mempersiapkan alat-alat bedah yg akan digunakan. Dimeja itu mulai terasa punggungku pegal-pegal karena cukup lama terlentang menunggu,waktu agak tegang suasana yg kurasakan. sesekali aku bertanya pada mereka, “ mas ??…gmn sih rasanya dioperasi ???.., mereka menjawab dg suara tenang nan tegas agar aku tak begitu resah, ucapnya “sampean tenang ajja mas…!!!, nanti sebelumnya kami akan memberikkan suntikkan bius, jd waktu dioperasi nanti mas tidak akan-merasakn apa-apa, sampai tertidur”, Yakh…jawabanya sama seperti yg diungkapkan temen aku kmrn yg katanya bapakny jg habis menjalani operasi. Sedikit hatiku merasa lega tp Dalm benakku menggumam,”Aku kira dibius pakek sapu tangan or tisu yg pernah aku lihat diTV, tp salah dugaanku.sejenak ku membayangkan gmn rasanya nanti ini ??…” ya allah berikanlah kekuatan dlam diri ini & jg kelancaran berlangsungnya operasi nanti”, dlm hatiku berdo’a lirih. Lalu setelah semuanya peralatan siap para perawat td keluar menunggu kdatangan dokkter, hampir 360 detik diri ini menanti sendiri terlentang dimeja itu dg kecemasan,ketegangan,& untaian do’a-do’a kpd sang khaliq memenuhi sanubariku. ketika ada  salah satu perawat yg melintas disampingku sambil menata-nata persiapan kuberanikan untuk bertanya agak protes.”mas…dokternya belum datang ??..”  djwab,” belum ms…beliau jg skrg menjalankan operasi di-RS lain, mungkin belum selesai, sabar ya…”,,  kujawab lirih…” kok lama ya mas”.iya mas…sabar ya...”.jawabnya kembali. Diri ini masih menanti dg penuh harapan . 15 menit kemudian kudengar suara,” hallo dokter I…. ini sudah siap semua dok, tinggal nunggu dokter”. Selang detik jawabanya dr dokter yg tak kudengar karena tak diloudspeker . lalu terdengar lagi .”yaudah dok…anak-anak udah menunggu ini, ditunggu secepatnya, hati-hati dok,makasih & Diakhiri dg salam.  Yakh….yg kudengar barusan dr salah satu perawat yg menelpon dokter. Setelah telepon ditutup kemudian mereka berbondong-bondong menghampiriku. Dijelasakan bahwa dokter I uwdah dalam perjalanan menuju keruangan itu. Detik itu Hatiku terasa lega setelah menanti dg penuh harapan,.. seketika mereka menghampiri tubuh lemasku, sangat tegang kurasakan dalm jiwaku , dikelilingi para perawat yg berkostum hijau lengkap dg masker & kaos tangan mereka mulai memperbaiki tubuh rusak itu ada yg dibagian bawah,atas,samping, yg terlimtas dalam pandanganku lebih dr 7 orang diruangan itu. Ketika dokter uwdah terdengar memasuki ruangan diri ini telah dipersiapkan oleh team bedah diruangan itu. Sebelumnya dimulailah dg menancapkan jarum suntikan dibagian punggung pas bawah/tepat pada sacral dibawah lumbai atau dalam kerangka tubuh disebut dg tulang kelangkang & tlg tungging (tlg katak/balung kodok, orang jawa menyebutnya), yg kutahu inilah suntikan bius. Baru kali ini aku merasakan suntikkan dibagian yg tidak pada umumnya, dibangunkanlah tubuhku dg perlahan,,kemudian ditancapkanlah jarum suntik itu kebagian itu & rasanya sakit bukan main,, aku meringis menahan sakit itu. Lalu dibujurkan lagi tubuh lemasku. Kemudian perawat ngasih komando untuk mengangkat kaki kiriku yg tak luka..  kuangkat perlahan, & aku masih kuat mengangkatnya , yg berarti biusnya belum bereaksi,  beberapa kali terasa cubit-an pd kaki kiriku, aku jg merasakan sepenuhnya. “gimana mas masih terasa???.”, salah salah satu perawat sambil mencubit kaki kiriku yg kurasakan. “iya…masih terasa..”, kujawab dg lemas. “coba…angkat kaki kirinya..”,kembali berkomando. Kuangkat perlahan & akupun mash bisa merasakan. Mereka heran. Udah beberapa menit dari suntikkan bius  kok masih belum ngefek. Sampai ada yg bertanya aneh mendekat tubuh layu itu, “kok belum ngefek za…mas’e punya ilmu ini pastinya ??..kok kebal banget”. Aku mendengarnya heran (wong aku ndak pernah belajar kanuragan,atau kejawen,atau apalah ilmu-ilmu kebal yg dimaksud itu). “ilmu..????..ilmu apa toh mas, aku ndak punya ilmu apa-apa”,jawabku dg disahut teman mas perawat td,”bohong…???… wong ilmu kok ndak punya toh mas ???,,,wong ditanya punya ilmu kok ndak punya..??..ilmu bhs.indonesia,matematika,biologi,bhs inggris,,, mas aku punya, jawab gitu lohh”, Sahutan rekan mas yg tanya pada diriku sebelumnya seolah mengajariku menjawab soal pelajaran. Aku tersenyum..ternyata pada suka becanda mas-mas perawat disini. Lalu “apa mas yg anda rasakan, uwdah terasa seperti kesemutan...”tanya perawat perempuan . “iza agak terasa seperti kesemutan bu..” kujawab lirih, karena memang kurasakan agak sprt ksemutan, tp ketika kumencoba menaikkan kaki kiriku aku masih kuat. Kemudian mereka mengira biusnya uwdah bereaksi,, tp aku masih sadar saat itu. Mulailah Disiram kaki kananku dg sebuah cairan, aku menjerit seketika…perih yg kurasakan. “wah…berarti biusnya belum reaksi ini, coba dikasih lagi”,Kata dokter yg menyiramnya td. Kembalilah diri ini dibangunkan dan diberikan suntikkan kembali bagian tulang bawah punggungku. Yang kurasakan lebih sakit dr pada sebelumnya, kemudian disandarkan  lagi tubuhku kemeja itu. Beberapa detik kemudian kurasakan kesemutan. dan kembali mereka bertanya: “gimana mas yg anda rasakan”, mungkin sambil kembali mencubit kaki kiriku, “seperti kesemutan”, jawabku-yg kurasa ada sentuhhan gamang. “coba angkat kaki kirinya”. Sambungnya bertanya. Kuangkat kakiku perlahan, tp sangat berat… seraya kujawab..”ndak bisa mas…berat…”, payah rasanya. Otot-ototku seperti tak berfungsi lagi. “ya…berat ya…berarati udah reaksi biusnya”, jawabnya kembali. Kemudian disiramlah kembali kaki kananaku, yg kurasakan kali ini adem…ndak seperti sebelumnya sangat perih. Mulailah penopang tubuhku yg rusak dibenahi. Waktu kurasakan pertama-tama aku masih sadar ada seperti gosokkan-gosokkan dibagian kaki kananku. “Mungkin dibersihkan dulu luka-lukanya sebelum dibedah”,fikirku. Beberapa menit kemudian..diriku uwdah tak tersadar…aku tertidur pulas tak merasakan apa-apa. Biusnya uwdah bereaksi total. Yakh…. dibenahilah penopang yg rusak itu…..

Setelah beberapa jam proses bedah Aku tersadar kembali …kubuka mata perlahan dr tidur pulasku..kutatap kanan kiri ruangan itu…yg tak lgi   ada kabel-kabel bergelayut, tak ada box-box besar,& tak ada lagi lampu bundar yg unik yang kulihat sebelumnya. Za…ternyata  diriku uwdah selesai menjalani operasi. Sekarang diriku terlentang kembali diruang ICU yg sebelumnya aku menungggu sebelum proses bedah td. Aku sudah tersadar dr biusan td, tp belum sepenuhnya pada tubuhku, kedua penopang tubuhku masih kaku & sangat berat untuk kugerakkan.  Disampigku ternyata ada ranjang yg sama persis, yakh…ternyata bapak lansia tadi jg uwdah selesai operasi. Dia bercerita sedikit ttg apa yg dirasakan waktu operasi. Katanya kesakitan waktu disuntik bius,yakh..emang yg kurasakan jg sama. Kusambung tanyaku pada beliau  dioperasi apanya. Ternyata beliau diamputasi jarinya karena diabetes. Sedikit kami berbincang. Diruangan itu terasa beku dg kesadaran yg baru lahir setelah pasca bius, hening berbalut suhu AC. Detik terus berputar kurasakan punggungku yg sangat pegal, sehingga terasa sakit, aku merengeh kesakitan.Tak lama kemudian ibuku menemuiku & aku meminta bantal lagi agar bisa rada ngeganjal punggungku biar agak tidak pegal. Selang beberapa menit kemudian berbondong-bondong satu persatu kerabatku dari ibu memasuki ruang ICU untuk melihat keadaanku, yakh,,, hanya 1 orang 1 orang bergantian yg boleh masuk. Ternyata mereka uwdah lama disana menunggu berlangsungnya perbaikan tubuhku. Setelah berangsur-angsur menemuiku kemudian mereka keluar bergantian. & beberapa menit kemudian tubuh layu  jg dibawa keluar ruangan itu, didoronglah ranjang yg kutunggangi  menuju ruangan Rontgen seperti sebelumnya kembali penopangku difoto X-RAY untuk melihat bukti hasil dr operasi tadi. Setelah foto diruangan itu kemudian dibawalahlah kekamar opname yg kulihat teman yg ikut membopopongku pas kejadian jg uwdah ada disana lagi & jg kerabat-kerabatku. Didoroglah ranjang itu ke LT.2 tepatnya diruang III C karena semua kamar uwdah penuh, tinggal kamar itulah yg mash tersisa buat tubuh layu itu. Ketika dimasukkan keruangan itu diriku sempat melirik kanan kiri dg pandangan yg belum begitu jelas tampak banyak orang disana dg raut wajah sedih,gelisah,& sebangsanya. Tak ada senyum dipetang itu pada ruangan yg terisi 6ranjang. Setelah dijelaskn oleh perawat tata atuaran disana yg masih kuingat yaitu apabila ada apa-apa dg pasien cukup memencet tombol yg ada disamping atas ranjang & kemudian perawat pasti kan menuju keruangan tsb.. yakh…ini beda lagi dg RS sebelumnya yg apabila infus atau ada apa-apa dg pasien ibu harus menuju keruangan perawat untuk mendapatkan penanganan, sdngkan disini cukup dg memencet tombol. Jd kurasa cukup efektif apabila ada kondisi darurat dg pasien ndak memakan waktu lama untuk mendapatkan penanganan. Setelah beberapa pesan dr perawat tersampaikan   lalu mereka meninggalkan kami diruangan itu.kulihat jam didinding ruangan itu ternyata udah pukul 19:00 WIB. yakh…mulai kurasakan haus..tp ketika aku minta air minum pd ortu mereka belum membolehkan sebelum aku bisa mengangkat kaki kiriku,”begitulah pesan dr perawat. Setelah beberapa menit kurasakan makin haus aku berusaha untuk bisa mengangkat kakiku, & alhamdulillah aku bisa, akhirnya kumulai membatalkan puasaku, tp pesan dr perawat lagi belum boleh banyak-banyak diriku minum. Tp tak apalah sedikit cegukan air membasahi tenggorokkanku yg mengering. Beberapa menit kemudian tepatnya jam 20:00 perutku mulai keroncongan, ketika kutanya bolehkah saya ma’em (makan)..???.. , pesan dr perawat lagi belum boleh sebelum aku bisa kentut…ya tuhannnn… begitu banyak aturannya untuk bisa BUKA dg sempurna, tp aku tetap bertahan pd aturan itu. Selang beberapa menit kemudian beberapa anak cewex-cowox masuk keruangan itu dg berucap salam sebelumnya, kutolehkan kepalaku & kulihat mereka..yakh mereka adalah temen-temen komunitasku yg baru aku kenal kurang dari 3bln setelah kami menjalani diklat kemarin. Aku tak menduga mereka kan datang kembali yg kata kedua ortuku td siang dah datang ketika aku menjalani operasi. Kamipun larut dg sapaan-sapaan & ngobrol bareng. Hatiku seneng bangets ketika itu atas kepedulian mereka kepadaku. Sekitar 120 menit mereka disampingku kemudian berpamitan pulang karena uwdah cukup malam,, diakhiri untaian” kalimat & do’a  dihadapanku agar tubuh layu itu dpt lekas sembuh mereka berpamitan ,kuucapkan banyak-banyak terimaksih pada mereka semua . kemudian mereka berpamitan dg ke2 ortuku & kerabat-kerabatku yg ada disana. Selepas mereka pulang perutku mulai sangat terasa keroncongan..yakh…jam dinding diatas pintu ruanga itu mulai menunjukkan pukul 22:00 lebih, sementara baru air putih beberapa teguk tadi yg masuk dalam rongga mulutku, kemudian kutanya pada ibu disana, “uwdah boleh ma’em belum emak ???”, “lah uwdah kentut belum ???,kata perawat tadi kan harus bisa kentut dulu”, jawab emak & bapak kompak. “uwdah….!!!”, kujawab dg muka melas (pdhal yg kurasakan belum,,,tp tubuhku uwdah tak tahan lagi.. tubuh kurusku semakin payah) aku tak peduli efeknya nanti, yg kurasakan aku baik-baik saja, & akan lebih baik jika dapat asupan sedikit karbohidrat,”dalam batinku berpendapat. Kemudian disuapilah tubuh layu itu oleh ibuku dg tepung beras yg uwdah dimasak & dibungkus dg daun pisang (orang didesaku biasa menyebutnya bongko/nogosari)  jajan bawaan kerabat yg menjenguk. Sekitar 2biji kurang kumakan perlahan, kunikmati apa yg ada, & cukup menenangkan perut yg keroncongan sblumnya. Yakh…sehari+setengah malam kurang 2jam tubuhku baru kemasukan karbohidarat. Kemudian beberapa jam kemudian   diriku terlelap dg buaian ketenangan setelah penopang tubuh yg rusak itu dibenahi. Ketika kuterbangun suasana disana berbeda dari kemarin ketika diRS sblumnya pagi-pagi setiap pasien uwdah disediani bak yg berisi air hangat+perlengkapan mandi(ada pasta+sikat gigi,sabun,&handuk kecil) meskipun kami para pasien disana ndak ada yg mandi sempurna tp minimal bisa cuci muka,membasuh bagian-bagian yg terjangkau,& gosok gigi. Kemudian setelah itu diberi asupan sesuai kebutuhan setiap pasien,yg tertutup rapat dg plastik terikat & terlapis tutup kembali, ya,,,berbeda lagi dg RS sblumnya (yg Cuma tertutup satu kali), sdngkan yg ini dobel, lebih efisien. Za mungkin biayanya kan beda juga dr sebelumnya. Setelah pasien selesai sarapan setengah jam kemudian datanglah perawat yg bertugas mengecek kondisi setiap pasien, dicheck tekanan darah,suhu badan,&  suntikkan obat pada setiap pasien, yg dilakukan masing-masing berbeda perawat sesuai tugasnya. Yakh..kurasa pelayananya cukup mumpungi meski kami diruang kelas  bawah. Hari itu berlalu dgn kedatangan para kerabat yg datang menjenguk. & waktu ba’da dzhuhur ada 3 cewex yg juga menjenguk diri layu itu, yakh…rupannya salah 1 diantara mereka adlh seseorang yg pernah menghiasi masa hatiku, aku tak menduga ia masih sangat mengingatku shg bisa tahu kabarku keclakaan & menyempatkan menjengukku diRS itu. Padahal uwdah sangat lama kita ndak kontek-kontekan semenjak bubaran kemarin. Akupun uwdah tak mau tahu kabarnya. Tp kami masih tetep berteman baikan kok meski uwdah ndak sms-an or telfonn. Berawal kenal baik maka berpisahlah dg cara yg baik. Itulah kata-kata terakhir yg sempat kita bahas. Siang yg beranjak sore itu kami larut dg obrolan mereka. Sekitar beberapa jam kemudian mereka brpamitan, & seperti sebelum-sebelumnya kuucapkan banyak terimakasih pada setiap yg menjenguk diri layu itu. Sorepun tiba kemudian beranjak kepetang, & malampun masih kulalui diruangan itu.

Sabtu…minggu…senin… 3 hari kurang diriku dirawat diRS berwarna khas hijau-hijau & terdapat gantungan pin bundar bergambar moodt smile lebar berwana kuning unik tergantung pada setiap saku pegawai disana dg bertuliskan kata ”Karena Kami Peduli” sebagai motto mereka.  …yakh…minggu siang dokter menemui kami & memutuskan uwdah boleh dibawa pulang yg kemudian menjalani rawat jalan tahap berikutnya. Mulailah siang itu bapak mengurus administrasi yg sebelumnya menghubungi saudaranya untuk meminjam biaya perawatanku disana. Yakh…kepada siapa lagi kalho tidak pinjam pada saudara, tak mungkin seketika itu keluarga kami bisa membayar sepenuhnya. Setelah selesai pengurusan administrasi sekitar jam 14:15 WIB diruangan itu kami dihampiri perawat dan disodorkan surat-surat tentang  bukti pembayaran & lembar-lembar keterangan pasien untuk rawat jalan/check up. “dijelaskan dg sgt jelas & sedetail-detailnya pd kami. Yakh…setelah itu diriku siap dibawa pulang . ttp tak langsung seketika itu, karena kami harus menunggu mobil yg udah dipesan dari rumah olh pamanku. Beberapa jam kami menunggu kedatangan mobil ditemani sahabatku yg mengantarkan charge HP pinjaman mas kmrn. Sampai sore menjelang petang perjlanan kami menuju kerumah. Perjalnan sekitar 120 menit kurang lebihnya dg kecepatan standart ditambah jlanan pantura yg sesekali macet.

Sesampai didepan rumah kamipun uwdah disambut hangat oleh para kerabat & tetangga sekitar, dikeluarkan tubuh lemah itu keluar mobil perlahan lalu digadang-gadang beberapa orang masuk kedalam rumah . Jam 19:00 tepat diriku diterlentangkan diranjang mbale (rumah depan).. seketika tetangga-tetangga & kerabat mengerumuniku untuk melihat keadaan tubuh layuku. Rumah depan bak Gubuk reot yg uwdah berdiri berpuluh-puluh tahun peninggalan nenek moyang yg tak kunjung terjamah perbaikan  terlihat rame seketika tubuh lemah dimasukkan,.  Semua yg ada disitu  melihatku iba, & beberapa orang ada yg menangisi tubuh yg payah itu.

Satu bulan lebih gubuk reot itu kedatangan tamu yg berangsur-angsur bak air yg mengalir dari sungai. Yakh…emang kehidupan didesa sangatlah kental akan nuansa kepedulian baik ketika ada yg punya hajat (suka/duka)  sampai ketika ada musibah, tetangga kerabat saling menyambangi (berkunjung).  Yakh yg  kutahu bapak & ibuk jg dari kelurga besar dg banyak saudara dr mereka & orang tuanya, jd hampir semua desa-desa tetangga kami punya kerabat disana, yg emang sebenarnya manusia berawal dr 2 insan (adam&hawa) yg menurunkan kehidupan ini, dan kita semua adalah saudara, sejatinya. Tak hanya dari tetangga & kerabat, teman-temanku yg aku kenal dari pendidikan formal maupun nonformal, mulai teman masa kanak-kanak sampai pendidikan tinggi maupun teman bermain dirumah beberapa diantara mereka jg menjungukku digubuk reot itu.  3 hari berikutnya diri ini harus melakukan check-up ditempat praktik dokter yg menangani tubuh rusak itu. Kemudian disusul 1 minggu setelahnya untuk melepas jahitan,kemudian 2 minggu kemudian masih kembali lagi, kemudian 1 bln kemudian, dan yg terakhir 1bln setengah dari sebelumnya, yakh beberapa kali check-up kujalani beberapa orang dekat terlibat dalam perjuangan perbaikan tubuhku saat itu mulai dari kedua ortu yg selalau menemani, nenek yg jaga adik dirumah, saudara bapak yg beberapa kali check-up ikut menemani, teman dekatku yg mendaftarkan nomor urut sebelum check-up, yg kami sewa mobilnya beserta sopirnya untuk antar-jemput & tetangga sekitar dan kerabat yg selalu menanti kedatanganku dr dr check-up. Yakh…emang jadwal bukanya tempat prakter dokter spesialis ortopedy malem sekitar jam 19:00 kurang biasanya pak dokter baru datang, itupun kami masih harus ngantri sesuai nomor urut yg telah dipesan sebelumnya. Biasanya tiap check-up berangkat sore ba’da ashar untuk daftar nomor urut dulu & pulang sampai rumah kembali sekitar jam -+22:00 … biasanya setiap kami pulang dirumah uwdah ada beberapa kerabat & tetangga yg menanti perkembangan keadaanku, berkunjung hingga  larut malam sampai akupun terlelap. Yang masih teringat sampai detik ini dari masa check-up kemarin yaitu ketika selesai foto rontgen pasti dapat amplop berwarna hijau khas klinik disana dgn sampul luarnya yg tertulis hasil foto X-RAY dgn kalimat kesehatan bukanlah apa-apa, tetapi segalanya tanpa kesehatan bukanlah apa-apa. Yakh …emang itu sangatlah benar adanya.

Hampir 1 bulan aku beraktivitas diatas ranjang, mulai dari makan,minum,dan sebagainya. 2 bulan berikutnya aku mulai bangun dengan bantuan sepasang tongkat jalan. 3- 4bulanan berikutnya  kulepas satu tongkatnya. Dan 5 bulan beranjak 6 bulan hari ini aku mulai bisa berjalan perlahan dengan sepasang penopangku yg  telah diperbaiki. Kuucapkan puji syukur yg agung pada Allah SWT yg masih memberikan kehidupan sampai detik ini, makasih banyak buat kedua orang tuaku yg sabar menemani kehidupanku, kerabat-kerabat semuanya yg selalu peduli, terimakasih jg buat sahabat-sahabatku yg telah menjengukku baik diRS maupun dirumah, terimakasih pada bapak/ibu guru formal & nonformal yg insya-allh selalu mendo’akan diri ini, terimakasih buat sahabat yg  telah mengurus administrasi & perizinan perkuliahan,terimakasih buat dosen pembimbing beserta staf prodi dan rektorat atas izin pendidikanku untuk berhenti sementara, terimakasih teman-teman semuanya yg mengenalku yg belum ada kesempatan buat menjengukku yg insya-allah juga selalu mendo’akan diri ini ketika lemah, terimaksih banyak atas do’a kalian semua tanpa terkecuali. Insy-allah aku akan selalu mengigat kalian semua. Maaf Aku belum bisa membalas semua jasa kalian yg pernah kau berikan pada diri ini. Hanya lantunan do’a kesehatan,keselamatan,kesuksesan & kemudahan setiap usaha kalian yg  bisa ku berikan. Semoga kita selalu diberi kekuatan dalam menjalani perjalanan hidup ini. Ada banyak hikmah dari kejadian yg kualami bulan-bulan kemarin. Mulai dari diriku sendiri, kedua orang tua,& keluarga kami. Kini aku tersadar bahwa kehidupan ini benar-benar sudah tertulis rapi diarasy singgasana. Ketika detik kehidupan tertulis demikian maka tak sanggup diri ini menolaknya meski berlindung dibalik benteng kuat, sekalipun kita kadang juga tak menduga demikian itu akan terjadi. Dan tak dapat kupungkiri bahwa hidup ini bukanlah suatu tujuan melainkan sebuah perjalanan. Dalam perjalanan pasti ada rintangan,mulai dari batu jalanan,duri yg berserakan, sampai fatamorgana yg melenakan. Kita perlu istirahat ketika tubuh mulai kelelahan atau mungkin juga karena tersandung batu jalanan atau mungkin tak sengaja manginjak duri yg berserakan, maka kita perlu mengobati luka sebelum jauh melangkah. Hanya keteguhan hati, ketabahan diri, & keyakinan iman yg mampu tuk buatku tetap tegar melangkah. Because, Life is Journey. So melangkahlah dgn sebaik-baiknya.

Bancar,15-05-2013

Tentang Sugeng Siswanto

Anak Biasa... Disaat ada Kesempatan & waktu luang Sekedar berbagi Cerita & apa yang aku ketahui kedalam blogg sederhanan ini. Semoga bermanfaat buat yang udah nyasar kesini. =>Salam Persahabatan. 【ツ】

Posted on Mei 15, 2013, in artikel, Cerpen, My Diary, Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 410 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: